Cara Belajar TOEFL

Kamis, 01 Mei 2014

Kekuatan Air Mata


 air mata1
Ia hadir hampir dalam setiap denyut nadi gerakan dan aktivitas mahasiswa. Penampilannya sederhana. Sikapnya santun. Mudah tersenyum. Suka menyapa, perhatian, dan ringan tangan. Saya baru mengenalnya ketika mengikuti sebuah acara seminar. Ia tampil sebagai pemateri. Air mukanya yang jernih dan tenang telah mampu menarik perhatian setiap pendengar. Untaian kata-katanya yang lembut, jelas dan tepat semakin menjadi daya tarik tersendiri bagi semua orang. Kata-katanya penuh ilmu dan hikmah. Bahkan candanya sekalipun tak kosong dari ilmu dan hikmah. Sehingga kesempatan bisa duduk dan ngobrol dengannya menjadi kesenangan tersendiri bagi saya.
Sangat gemar membaca, tak jarang setelah seharian kuliah ia sering ditemukan asyik menikmati buku-buku di Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo (PMIK). Full aktivitas, kegiatannya hampir tak terputus dan tanpa henti. Kendati demikian ia tidak pernah kehilangan kesempatan shalat berjamaah di mesjid, takbir pertama bersama imam. Walau sibuk, ia tak lupa menyempatkan diri bermesraan dengan mushâf saku yang selalu ia bawa. Ia selalu tampak kuat, bersemangat dan bisa menyelesaikan setiap pekerjaan dengan baik. Kebaikan yang ada pada dirinya mendorong saya untuk ingin lebih dekat mengenalnya. Saya ingin mengetahui apa yang menjadi rahasia kekuatan semangat, ketenangan dan kejernihan hati dan pikirannya.
Menurut salah seorang teman yang tinggal serumah dengannya, bahwa ia sering kedapatan menangis. Ya, ia sering ditemukan terisak menangis. Ketika ditanya kenapa ia menangis, ia berkata, “Akhi, kita hidup di dunia hanya sebentar, kematian datang kapan saja, setiap amal kita akan dihisab dan saya tidak tahu apakah kelak di akhirat saya akan tergolong menjadi ahli sorga ataukah neraka.”
Suatu kali ketika shalat subuh berjamaah, saya berdiri di sampingnya. Dan saat itu imam membaca ayat, “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang. Maka dia akan berteriak, “celakalah aku”. Dan dia akan masuk kedalam api yang menyala-nyala(neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira dikalangan kaumya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.” (Al-Insyiqâq: 10-15 ). Saya mendengar ia menangis sejadi-jadinya, saya seakan-akan mendengarkan air mendidih dari rongga dadanya.
Seusai shalat, saya melihat tangisan itu masih membekas di wajahnya. Hatinya begitu lembut, begitu mudah tersentuh dengan Al-Qur`ân.
Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh pendahulu kita, para Al-Salafus Sâlih. Menurut suatu riwayat, jika mengerjakan shalat subuh, Umar Ra. sering membaca surat Al-Kahfi, Thaha dan surat-surat lain yang sama panjangnya dengan surat itu. Pada saat itulah Umar Ra. sering menangis sehingga tangisannya terdengar ke barisan belakang. Pada suatu ketika dalam shalat subuh , Umar Ra. membaca surat Yusuf, ketika sampai pada ayat, “Sesungguhnya hanya pada Allah saya mengadukan kesusahan dan kesedihanku. ” ( Yusuf : 86 )
Umar Ra. menangis terisak-isak sehingga suaranya tidak lagi terdengar ke belakang. Terkadang dalam shalat tahajudnya Umar Ra. membaca ayat-ayat Al-Qur`ân sambil menangis sehingga ia terjatuh dan sakit. Inilah perasaan takut pada Allah seorang yang apabila disebut namanya saja, akan menggetarkan dan membuat takut hati raja-raja besar.
Rasulullah Saw. bersabda, “Akar dari kebijaksanaan adalah takut kepada Allah.”
Suatu hari Rasulullah Saw. melewati seorang sahabat yang sedang membaca Al-Qur`ân, ketika sahabat tadi sampai pada ayat, “Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah seperti kulit yang merah.” (Ar-Rahman: 37), maka bulu pembaca tadi berdiri tegak dan dia menangis terisak-isak dan berkata, “Aduh, apakah yang akan terjadi pada diriku apabila langit terbelah pada hari kiamat? Sungguh malang nasibku.” Nabi berkata padanya, “Tangisanmu membuat para malaikat ikut menangis bersamamu.”
Abdullah bin Rawahah salah seorang sahabat Rasulullah Saw., pada suatu hari menangis dengan sedihnya, melihat keadaan itu istrinya pun turut menangis bersamanya. Dia bertanya pada istrinya, “Kenapa engkau menangis?” istrinya menjawab, “Apa yang menyebabkan engkau menangis, itulah yang menyebabkan saya menangis.” Abdullah berkata, “Ketika saya ingat bahwa saya harus menyeberangi neraka melalui shirat, saya tidak tahu apakah saya akan selamat atau tidak.”
Rasulullah Saw. bersabda : “Wajah yang dibasahi air mata karena takut pada Allah walaupun sedikit akan diselamatkan dari api neraka.” Beliau juga bersabda, “Jika seseorang menangis karena takut pada Allah maka dia tidak akan masuk neraka, seperti tidak mungkinnya air susu masuk kembali ke putingnya.”
Aisyah bertanya kepada Rasulullah Saw., “Adakah diantara pengikut-pengikutmu yang akan masuk surga tanpa hisab?”, “Ia” jawab Nabi. “Dia adalah orang yang banyak menangis karena menyesali dosa-dosa yang telah ia lakukan.”
Dalam kesempatan lain Rasulullah Saw. bersabda, “Ada dua jenis tetesan yang sangat disukai oleh Allah, tetesan air mata karena takut pada-Nya dan tetesan darah karena perjuangan di jalan-Nya.”
Sungguh masih banyak lagi riwayat yang menjelaskan penting dan bermanfaatnya menangis karena takut pada Allah Swt. sambil menyesali dosa-dosa dan mengingat kebesaran Allah. Dan kisah-kisah diatas adalah suatu teladan bagi kita.
Ternyata air mata tidak selamanya menjadi simbol kelemahan, di dalamnya justru terdapat kekuatan, ada daya rubah yang luar biasa. Dengannya banyak pekerjaan besar bisa diselesaikan secara optimal. Terutama saat-saat bersama Al-Qur`ân, disaat sendiri mengingat dosa dan kesalahan.
Marilah kita melihat diri kita yang bergelimang dengan noda dan dosa, diri yang tidak pernah merasa takut dengan siksa Allah. Mata yang sangat jarang atau bahkan tidak pernah menangis karena takut pada Allah. Dan mari kita hitung, sampai detik ini, sudah berapa kali air mata kita menetes karena takut pada Allah? Karena mengingat dosa-dosa dan kesalahan kita dan karena mengingat siksa-Nya. Wallâhul musta`ân wa a`lam

Sabtu, 15 Maret 2014

Ibadah dan Sedekah


 Sedekah (ilustrasi)

                                                                  Oleh M Husnaini

Mbah Kasia, begitu kami biasa menyapa. Nenek berusia senja itu hidup sederhana dan sakit-sakitan. Ia tinggal serumah bersama putra dan suaminya, Mbah Molatip, yang renta dan sakit-sakitan pula.

Tidak banyak yang dapat dilakukan, selain bergantung hidup kepada putra semata wayang mereka yang bekerja sebagai kuli serabutan. Jangankan bekerja, bahkan hidup saja bertopang obat.

Selain faktor usia, pasangan kakek-nenek itu memang mengidap berbagai penyakit dalam selama bertahun-tahun. Namun demikian, semangat ibadah mereka luar biasa. Mereka tidak absen shalat jamaah lima waktu di masjid.

Bahkan, ketika Subuh, saya sering mendapati mereka sudah di masjid sejak pukul 03.00 WIB. Ada yang lebih membuat saya merasa malu. Mereka hidup pas-pasan bahkan kekurangan, tetapi kedermawanan menjadi gaya hidup sehari-hari.

Mbah Kasia sering mengantarkan makanan ke rumah. Padahal, makanan itu pemberian dari orang untuk mereka. Kalau saya mempunyai sedikit rezeki dan berbagi dengan mereka, ucapan terima kasih tidak henti-henti disampaikan.

Besok atau lusanya, biasanya mereka membalas dengan memberikan apa saja yang mereka punya untuk anak saya. Subhanallah. Keterbatasan hidup ternyata tidak menghalangi mereka berbuat baik kepada sesama.

Merekalah teladan hidup, hamba-hamba Allah yang tidak fasih mengucapkan dalil agama, tetapi sangat terampil mempraktikkan ajaran agama. Kita yang lebih paham agama dan hidup jauh dari kekurangan, cobalah menengok mereka.

Mereka miskin dan lemah di mata manusia, tetapi kaya dan kuat di mata Allah. Saya berpikir, itulah barangkali yang memunculkan banyak keajaiban terhadap mereka. Misalnya, beberapa tahun lalu, Mbah Kasia divonis dokter hanya bisa bertahan hidup selama enam bulan ke depan.

Itu karena komplikasi jantung akut yang dideritanya. Berbagai pengobatan sudah dijalani. Hanya, ia tidak mampu membayar ongkos operasi sehingga harus pasrah pada nasib. Mbah Kasia akhirnya mengalami kondisi bagai mayat hidup.

Perut membuncit, napas tersengal, dan bicara dengan isyarat. Betapa hebat ujian hidup yang ia alami. Bagi kami mati lebih baik daripada hidup semacam itu. Tetapi, kuasa Allah sungguh mengungguli nalar manusia.

Faktanya, kondisi Mbah Kasia berangsur pulih. Hingga kini, ia masih berkesempatan menghirup udara dunia. Tentang suaminya, Mbah Molatip, lebih mengherankan lagi. Malam itu pukul 21.00 WIB. Kakek berusia kepala delapan ini mendadak sekarat akibat muntah darah.

Darah segar mengalir deras dari hidung dan mulutnya. Akhirnya, ia tidak lagi bergerak dan tidak bernapas selama beberapa menit. Terang saja tangis keluarga pecah. Kami semua yang menunggu mengiranya sudah meninggal.

Mbah Molatip lalu ditidurkan telentang, disedekapkan layaknya orang meninggal. Ya Allah, betapa cepat Engkau mengambil hamba-Mu. Maghrib tadi masih shalat jamaah di masjid, tetapi sekarang telah menghadap-Mu dengan kondisi demikian menyedihkan.

Keluarga lantas meminta saya untuk mengumumkan berita kematiannya di masjid. Saya bergegas menuju masjid. Baru sekian langkah keluar, saya mendengar gemuruh dari dalam rumah. Seseorang berlari mengejar sambil memanggil-manggil nama saya.

 “Jangan diumumkan dulu”, katanya. Saya menghentikan langkah dan kembali masuk rumah. Ajaib, kakek yang sehari-hari berjalan dengan bantuan tongkat itu mendadak bergerak-gerak.

Besoknya, Mbah Molatip sudah kembali shalat jamaah Subuh di masjid seperti biasa. Kabar duka baru muncul beberapa waktu lalu. Mbah Molatip telah meninggalkan kita semua.

Sabtu, 01 Februari 2014

Nikah Setelah Hamil, Bagaimana Hukumnya?


 Menikah.   (ilustrasi)
Assalamu'alaikum wr wb.
Bagaimana hukumnya pernikahan yang dilakukan setelah pengantinnya hamil? Apakah anak yang dilahirkan berhak menggunakan nama suami ibunya? Ada yang mengatakan nikahnya tidak sah karena dilakukan pada kondisi tidak suci, sehingga dianjurkan dinikahkan lagi.
Wassalamualaikum,
Anita, Jakarta

Jawaban:
Perkawinan yang didahului oleh kehamilan dinilai sah oleh banyak ulama, walaupun memang ada ulama yang menyatakan bahwa perkawinan tersebut tidak sah. Sahabat Nabi SAW, Ibnu Abbas, berpendapat bahwa hubungan dua jenis kelamin yang tidak didahului oleh pernikahan yang sah, lalu dilaksanakan sesudahnya pernikahan yang sah menjadikan hubungan tersebut awalnya haram dan akhirnya halal.
Dengan kata lain, perkawinan seseorang yang telah berzina dengan wanita kemudian menikahinya dengan sah, seperti keadaan seorang yang mencuri buah dari kebun seseorang, kemudian dia membeli dengan sah kebun tersebut bersama seluruh buahnya.
Apa yang dicurinya (sebelum pembelian itu) haram, sedang yang dibelinya setelah pencurian itu adalah halal. Inilah pendapat Imam Syafi'i dan Abu Hanifah. Sedang Imam Malik menilai bahwa siapa yang berzina dengan seseorang kemudian dia menikahinya, maka hubungan seks keduanya adalah haram, kecuali dia melakukan akad nikah yang baru, setelah selesai iddah dari hubungan seks yang tidak sah itu.
Memang kalau ingin lebih tenang, sehingga dipandang sah juga oleh penganut mazhab Maliki, tidak ada salahnya melakukan nikah ulang, dengan memanggil dua orang saksi, wali wanita serta siapa saja yang bertindak sebagai penghulu. Anak yang lahir itu -- jika diakui oleh suami wanita tadi, maka dia dapat menyandang nama sang suami. Demikian, Wa Allah A'lam.
Sumber :  www.replubika.com

Selasa, 21 Januari 2014

Sistem Khilafah Bukan Syariat Islam

 

Jakarta, NU Online
Agama Islam tidak mengatur kepemimpinan umat dengan sistem khilafah. Tiada satu pun nash Al-Quran dan hadis Rasulullah SAW menunjukkan sistem khilafah sebagai model kepemimpinan Islam seperti yang dipaksakan sekelompok kecil umat Islam.

Demikian disampaikan pengurus Aswaja Centre KH Syamsul Arifin Abdullah yang kerap disapa Gus A’ab dalam diskusi “Penerapan Aswaja di Lingkungan Muslimat NU” di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Sabtu (18/1).

“Kalau model khilafah ada nasnya, pengangkatan khalifah takkan berbeda,” tegas Gus A’ab.

Di hadapan 90 kader Muslimat NU yang mengikuti Orientasi Kepemimpinan Ormas Perempuan selama dua hari, Sabtu-Ahad (18-19/1), Gus A’ab merujuk pada kenyataan sejarah para khalifah Rasulullah SAW.

Para sahabat Rasulullah SAW menggunakan cara berbeda dalam mengangkat masing-masing dari empat khalifah itu. Perbedaan itu bisa dimaklumi karena nas agama tidak memberikan petunjuk teknisnya, terang Gus A’ab.

Mereka menggunakan mekanisme pengangkatan pemimpin sesuai dengan perkembangan zamannya dan wawasan politik masyarakat di tiap era khalifah itu. Dari situ, ulama menyimpulkan, Rasulullah SAW menyerahkan umatnya untuk menentukan sistem pengangkatan pemimpin.

Rasululllah SAW memang pernah mengatakan, khalifah berasal dari suku Quraisy. Pertimbangannya ketika itu lebih pada besarnya modal sosial yang dimiliki suku Quraisy. Namun, Rasulullah SAW sama sekali tidak merinci mekanismenya, tandas Gus A’ab dalam acara yang diselenggarakan PP Muslimat NU dan Dirjen Bimas Islam Kemenag RI. (Alhafiz K)

Sumber : KLIK>>

Sabtu, 28 Desember 2013

Muneera Martina: Jadi Muslim Bukan Teroris

 mualaf (ilustrasi)

Muneera Martina menatap kosong. Ia teringat betapa hampa hidupnya meski memiliki kemampuan finansial berlebih.

"Inilah rahasia kekuatan Allah, kita membutuhkan-Nya. Dia bimbing manusia dengan rahmat-Nya. Ini yang tidak pernah dipikirkan manusia," ucap dia seperti dilansir onislam.net, Kamis (26/12).

Martina telah mengunjungi banyak negara dengan harapan memperoleh apa yang dicarinya. Ia ingin mendapatkan kebahagiaan, hal yang sebenarnya tersembunyi dihatinya. Namun, Allah punya rencana lain terhadapnya.

Pada perjalanan itu, Martina mendengar kabar tentang Islam. Seperti informasi lain yang diperolehnya, tidak ada kelengkapan sehingga terkesan biasa dan menyudutkan. "Saya termasuk orang yang tidak puas, itu sebabnya saya mencoba mencari tahu sumber atau pandangan yang berbeda tentang Islam," ucapnya.

Itu yang kemudian mendorongnya untuk mengenal Timur Tengah. Satu kawasan, lahirnya agama Islam. Pertimbangan Martina saat itu, informasi harus diperoleh dari sumbernya langsung. Informasi ini akan membawa perimbangan dengan banyaknya informasi yang cbias.

"Saya mencoba untuk menemukan jawaban dalam banyak pandangan, termasuk budaya dan bangsa. Islam, saya pikir dibatasi pada suatu kelompok etnis tertentu," ucapnya.

Mulailah Martina belajar bahasa Arab. Di Bratislava, ia mencari toko  buku yang menjual Alquran. "Aku pandang Alquran ini cukup lama. Perasaan aneh pun muncul, ada sesuatu yang akan mengubah hidup saya," ungkapnya.

Dua bulan kemudian, Alquran itu kerap ia bawa kemana pun. Diberbagai kesempatan, Martina selalu membacanya, itu termasuk ketika berada diperjalanan menunju kantor. Banyak koleganya yang terganggu dengan apa yang dilakukan Martina. "Saya bukan teroris. Saya hanya ingin mnejadi Muslim tapi saya tidak tahu caranya," kata Martina setiap pertanyaan yanga muncul dari koleganya.

Suatu hari, Martina menuju kantor. Ia duduk di Trem, saat itu ia mendengar salah seorang penumpang tengah berbicara bahasa Arab. Merasa penasaran, Martina mencari sumber percakapan itu. "Saya terkejut, ketika ada perempuan Slovakia mengenakan hijab," kata dia.

Seketika, mereka terlibat dalam obrolan hangat. Mereka bertukar alamat, dan berjanji akan bertemu di lain waktu. Selesai bekerja, ia kembali melihat perempuan itu. Kembali, keduanya terlibat pembicaraan serius. Perempuan itu menceritakan keputusannya memeluk Islam. Olehnya, Martina diajak makan malam berwsama.

"Saya selalu ingat, dari mereka, saya beranikan diri mengunjungi masjid. Diluar dugaan, banyak yang seperti saya. Bahkan ada seseorang dengan kisah yang rumit sebelum akhirnya memeluk Islam," kenang Martina.

"Pagi harinya, saya dengan tekad bulat akan memulai hidup baru. Bismillah, Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Aku percaya Muhammad SAW itu utusan Allah," ucapnya.

Sumber: www.replubika.com

Rabu, 06 November 2013

Lowongan PT. Mayora Indah, Tbk

Company Banner



Sebagai FMCG terkemuka di Indonesia, kami sedang memperluas cabang-cabang kami di Indonesia.
Jika Anda seorang yang dinamis, pekerja keras individu, tertarik untuk mengambil tantangan baru dan Anda juga percaya Mayora adalah tempat untuk Anda, kami mengajak anda untuk bergabung. 
 KHUSUS UNTUK AREA PASURUAN-JAWA TIMUR : KLIKK>>

1. Perawat ( Perawat - Pasuruan)                                  
2. Supir Forklift (Kode : Forklift Pasuruan)                 
3. QC Line Proses (Kode : QLP Pasuruan)                  
4. Unit Head Cap - Botol (Kode : UH CB Pasuruan)   
5. Unit Head Warehouse (SHW Pasuruan)                    .                  
 (expired : 04 Desember 2013)
atau kirim CV ke  hrd.tfj@mayora.co.id

Minggu, 27 Oktober 2013

Tak Perlu Antre Aktivasi BBM di Android

BBM for Android

Aktivasi Blackberry Messenger (BBM) di Android kini tidak perlu lagi mengantre karena bisa langsung log in (masuk jika sudah mempunyai Blackberry ID/BB ID) atau membuat BB ID baru.
Sebelumnya, setelah mengunduh aplikasi BBM untuk Android, pengguna diminta terlebih dahulu memasukkan alamat email dan diminta mengantre sampai mendapat email konfirmasi. Setelah mendapatkan email konfirmasi dari BB, maka pengguna baru bisa melakukan langkah selanjutnya.
Hal itu karena tingginya permintaan untuk mengunduh BBM untuk Android dan iPhone, yang mencapai enam juta permintaan sebelum diluncurkan secara resmi pada Selasa (22/10) dini hari.
Namun, saat dicoba pada Ahad (27/10), setelah aplikasi diunduh, pengguna bisa langsung dihadapkan pada pilihan log in atau membuat BB ID baru.
Pada Jumat, pihak BB juga sudah melakukan update (pembaruan) aplikasi BBM di Android, terutama memperluas jangkauan smartphone yang kompatibel dengan aplikasi ini karena sebelumnya banyak pengguna yang tidak dapat mengunduh walaupun spesifikasinya sudah sesuai.