Cara Belajar TOEFL

Jumat, 13 Januari 2012

Tawakkal, Bekal Hadapi Cobaan

 

SETIAP orang memiliki cita-cita, jangka pendek maupun jangka panjang. Akan tetapi jalan untuk mencapainya tidak selalu mulus. Penuh dengan onak dan duri, kesulitan dan hambatan yang beraneka ragam. Hambatan-hambatan itu tidak hanya berasal dari hukum alam tapi juga dari dirinya sendiri. Dengan demikian ia selalu berjuang, berbuat dan bekerja tanpa henti untuk menghilangkan, menyingkirkan kesulitan dan rintangan itu demi tercapainya cita-cita. Dalam keadaan seperti ini betapa butuhnya ia terhadap kekuatan yang dapat membantunya, dan mengantarkannya, menyelesaikan kesulitannya, menyingkirkan penghalang yang dapat menerangi jalannya.

Kekuatan yang diharapkan itu hanya berada pada naungan akidah (iman) dan taman iman kepada Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه Ùˆ تعالى‎).

Iman kepada Allah inilah yang dapat mendatangkan kekuatan ruhani, kekuatan jiwa, karena seseorang yang beriman hanya berharap pada kelebihan, dan karunia Allah, hanya takut kepada siksa Allah tidak peduli kepada selain Allah.

Sehingga ia menjadi orang kuat walaupun tidak memegang senjata, ia kaya walaupun tidak punya gudang emas dan perak, ia perkasa walaupun tidak punya keluarga dan massa, ia teguh walaupun perahu kehidupannya goyah dan dikepung ombak bahkan lebih kuat walaupun dibandingkan dengan lautan, gelombang dan angin.

Rasulullah bersabda, "Seandainya kalian mengetahui Allah (makrifat) dengan sebenar-benarnya, niscaya gunung-gunung itu hilang sirna karena doa kalian."
Orang yang beriman mempunyai kekuatan spiritual, karena ia mengambil kekuatan dari Allah dzat yang maha tinggi dan besar yang ia jadikan tempat bergantung (tawakkal). Ia berkeyakinan bahwa Allah selalu bersamanya di mana saja ia berada, ia penolong orang-orang yang beriman, penghancur orang-orang yang jahil.

"Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah maka sesungguhnya Allah itu maha perkasa dan bijaksana". (QS. 8:49).Ia maha perkasa tidak akan merendahkan mereka yang bertawakkal kepada-Nya, bijaksana tidak akan menelantarkan mereka yang berpegang teguh kepada hikmah dan pengaturannya.

Firman Allah "Jika Allah menolong kalian, maka tiada orang yang dapat mengalahkanmu, dan jika Allah menghinakanmu, maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang yang beriman itu bertawakkal."

Tawakkal kepada Allah, bukan menyerah dan kemalasan, namun bertawakkal adalah pendorong, perangsang, pendorong jiwa yang mendatangkan kekuatan melawan dan membangkitkan tekad. Dampak dari tawakkal yang bersemi dalam jiwa, akan melahirkan kekuatan yang luar biasa dahsyatnya.

Nabi Hud as dalam pertikaiannya dengan kaumnya 'Ad, ia dapatkan tawakkal sebagai benteng kokoh yang dapat melindunginya. Firman Allah QS. Hud 53-56:"Kaum 'Ad berkata, 'Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami sesuatu bukti yang nyata. Dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami tidak menimpakan penyakit gila pada dirimu.' Hud menjawab: 'Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah, dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dari selain-Nya, sebab itu jalankan tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus'."

 Dari ayat tersebut kita dapat melihat para Rasul Allah selalu menjadikan tawakkal (bergantung kepada Allah) sebagai bekal untuk menghadapi pembangkangan dan gangguannya.

Kebenaran. Orang yang beriman memperoleh kekuatan dari kebenaran (haq) yang ia yakininya. Ia tidak berbuat dan berjuang untuk kesenangan sementara, intres pribadi, fanatisme atau perbuatan dzalim kepada sesama. Akan tetapi ia berbuat memperjuangkan kebenaran yang karenanya alam ini ditegakkan demi kebenaran yang harus dimenangkan.

Tersebutlah dalam sejarah Islam, Rob'i Ibnu utusan Saad ibnu Abi Waqos menghadap Rustam panglima perang Parsi dalam perang Qodisiyah, saat itu ia diiringi bala tentaranya, sementara sekelilingnya penuh emas dan perak, namun ia tidak mempedulikannya. Ia masih menemui mereka dengan kudanya yang pendek, tameng yang keras, dan pakaian yang kasar. "Siapa Anda dan untuk apa kalian?" tanya Rustam.

"Kami adalah suatu kaum yang diutus Allah untuk melepaskan siapa saja yang Ia kehendaki dari menyembah sesama hamba, untuk menyembah Allah yang Esa, dari kepicikan dunia ke kelapangan dan dari agama yang sesat pada agama yang benar (Islam)."

Seorang yang beriman kepada Allah dan kebenaran tidak akan takut atau minder karena ia telah berpegang teguh pada tali yang kuat dan berlindung ketiang yang kokoh.

Ia bukanlah manusia tanpa makna dan cita-cita, akan tetapi ia khalifah Allah di bumi walaupun ia dimusuhi oleh kebathilan, Allah dan Jibril dan orang orang shaleh berikut malaikat akan selalu membantunya.

Bagaimana mungkin seorang beriman akan lemah dan takut menghadapi manusia betapapun besarnya, sementara di belakangnya para malaikat yang siap membantunya? Mana mungkin ia akan tunduk kepada makhluk sementara ia bersama kholiknya?

"Sesungguhnya manusia-manusia telah berkumpul untuk menyerangmu maka takutlah kepada mereka." Maka bertambahlah iman mereka dan berkata "Allah yang mencukupi kami dan ia adalah sebaik-baik dzat yang menjadi wakil, maka berubahlah mereka berkat nikmat karunia dari Allah dan tidak tersentuh oleh kejahatan sedikitpun." (Qs Ali imron 174)

 Iman seperti inilah yang dapat membuat beberapa anak muda seperti sahabat-sahabat kahfi (gua) mampu melawan raja yang lalim serta kaumnya yang sangat fanatik, keras kepala, walaupun mereka (ashabul kahfi) tidak ada daya dan kekuatan materi yang memadai. Firman Allah swt dalam surat Al Kahfi ayat 14-15, "Dan kami telah meneguhkan hati mereka berdiri lalu mereka berkata: 'Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi, kami sekali-sekali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran'. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih lazim dari orang-orang yang mengada-adakan kebohongan kepada Allah?".

Keyakinan.Seorang yang beriman memperoleh kekuatan dari keyakinannya akan kebahagiaan abadi kelak. Masa hidupnya bukan masa yang terbatas dan tempat dan ruang terbatas, namun kehidupan abadi, kehidupan akhirat.

 Maut adalah proses perjalanan dari dunia yang fana ini menuju alam baqa. Umair ibnu Hammam al Anshori mendengar Rasulullah saw bersabda kepada para sahabatnya pada perang badar: "Demi dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tiada seorang pun yang hari ini berperang melawan orang-orang musyrik, kemudian terbunuh dengan hati yang sabar, ikhlas, maju pantang mundur kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga".

 Mendengar itu Umair berkata: "Bagus, bagus!!!"

"Kenapa Anda kagum wahai anak Hammam?" tanya Nabi saw.

Lalu Umair menjawab "Bukankah antara aku dan surga hanya berjarak maju memerangi mereka kemudian aku terbunuh?". "Ya" jawab Nabi. Sementara di tangan Umair beberapa biji kurma yang sedang ia makan lalu ia berkata: "Apakah saya perlu hidup sehingga aku dapat memakan beberapa biji korma ini? Padahal akhirat adalah kehidupan yang panjang!" Ia pun melemparkan buah biji kurma itu dan maju berperang seraya tersenyum.

Berangkat menuju Allah tanpa bekal selain taqwa dan amal untuk akhirat dan bersabar berjuang karena Allah semua bekal akan habis sirna, selain taqwa dan amal kebajikan dan petunjuk.

 Ini, Anas ibnu Nadlir ia berperang, laksana pahlawan dalam perang Uhud. Ia bertemu dalam perang itu dengan Saad Ibnu Muad dan berkata kepadanya, "Wahai Saadz! Demi Tuhan pemilik keindahan, surga telah kudapatkan baunya di balik Uhud".*/aql

Selasa, 10 Januari 2012

Doa dan Optimisme

Ketika semua jalan terasa buntu. Pandangan ke masa depan terasa suram, di mendung awan gelap tanpa harapan. Hidup didera berbagai persoalan yang mengharu biru, maka seorang hamba yang merindu cinta Ilahi, bersegera mengadukan seluruh persoalannya kepada Dia yang Maha Penolong. Dengan sebongkah hati penuh iman dan optimisme, ia berhusnuzan (berprasangka baik) kepada Allah, bahwa hanya dengan rida dan iradah-Nya, segala awan gelap kehidupan mampu disingkirkan. Tidak ada yang mustahil bagi Allah, karena bagi-Nya cukuplah berucap, ”Kun faya kun, maka jadilah.”

Dalam melafalkan doanya, ia pun memintal sejuta sesal seraya bertobat membersihkan diri dari dosa. Karena, ia sadar bahwa dosa adalah kabut penghalang untuk memandang wajah Ilahi. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada yang dapat menolak ketentuan takdir (qadha) kecuali doa. Dan, tidaklah ada yang menambah umur kecuali berbuat kebajikan. Dan, seseorang diharamkan rezekinya, karena perbuatan dosanya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Ketika ia berdoa tumbuh keyakinan bahwa cepat atau lambat permohonannya akan dikabulkan Allah. Dia tidak akan menyalahkan siapa pun bila doanya belum terkabul, bahkan sebaliknya, ia akan terus melakukan introspeksi dan melakukan islah (perbaikan diri), melakukan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan memperbanyak berbuat kebajikan (fastabiqul khairat). Karena, ia sadar setiap doa ada syarat-syaratnya. Tidaklah seseorang disebut sebagai orang baik, kecuali ia memang selalu berbuat baik. Tidaklah seseorang disebut beriman, kecuali ia penuhi kriteria untuk diakui sebagai seorang yang beriman. Demikian juga dengan doa. Tidaklah doa dikabulkan kecuali ia dipenuhi kehendak Ilahi dengan rasa penuh cinta.

Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan bahwa salah satu syarat berdoa adalah sikap optimistis dan yakin bahwa apa yang ia harapkan akan dikabulkan. Rasulullah bersabda, "Jika kamu berdoa kepada Allah Azza wa Jalla, wahai manusia mohonlah kehadirat-Nya dengan penuh keyakinan bahwa doamu akan dikabulkan, karena Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai." (HR Ahmad).

Doa sesungguhnya akan melahirkan kekuatan batin yang luar biasa. Karena, sikap percaya diri dan optimisme merupakan pedang paling tajam dalam menebas segala ilalang semak belukar yang mengotori perjalanan.

Orang yang berdoa itu bersikap optimistis penuh prasangka baik (husnuzhan) kepada Allah SWT. Orang optimistis mampu melihat kesempatan di antara begitu banyak kesempitan. Sedangkan orang pesimistis melihat begitu banyak kesempitan di antara semua kesempatan.

Optimisme adalah sebuah keyakinan yang akan membawa pada pencapaian hasil. Tidak ada yang bisa diperbuat tanpa harapan dan percaya diri. Salah satu sifat seorang mukmin adalah sikapnya yang optimistis, tidak ada rasa duka cita atau merasa cemas dalam memandang masa depan. "Dan, janganlah kamu merasa lemah dan jangan bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling unggul, jika kamu beriman.” (QS Ali Imran [3]: 139). Wallahu a’lam bish shawab.

Senin, 09 Januari 2012

Wanita Tangguh Mencari Cinta

Teringat akan kisah seorang kawan menemukan jodohnya, cukup membuat diri ini semakin yakin akan ketetapanNya tanpa melanggar atau mencari celah pembenaran untuk melakukan hal-hal yang dilanggar Allah.
Kisah ini berawal dari tahun lalu, di mana masa perjuangan seorang kawan itu menemukan si Pemilik Tulang Rusuknya. Sebut saja namanya Zahra, dia belum pernah yang namanya berpacaran sekalipun. Subhanallah, sungguh keadaan yang sangat jarang terjadi sekali terjadi di zaman ini. Tetap teguh dalam rasa yang hanya diniatkan untuk Rabbnya. Menginjak usia dua puluh empat tahun, naluri ingin dicintai oleh lawan jenis pun muncul. Tapi ia hanya ingin menggapainya melalui jalur yang halal bukan pacaran. Zahra ingin menikah.
Suatu saat, ia memiliki suatu rasa (bisa dibilang cinta) kepada kawan sekolahnya semasa di kampung. Meskipun kini tinggal di pulau yang berbeda namun rasa itu kian hari kian tumbuh. Sebuah rasa yang disebabkan oleh keshalihan si Pria Idaman tersebut (karena kebetulan Zahra mengenal keluarga kawannya itu dan keshalihan keluarganya) bukan karena fisik atau kekayaannya. Tapi Zahra bukanlah seorang perempuan 'lebay' yang menggembor-gemborkan perasaannya langsung kepada pria itu. Rasa itu, ia tahan sedemikian rupa hingga hanya ia dan Allah saja yang tahu rasa itu. Hingga kemudian Zahra berusaha mencari solusi dengar meminta nasihat seorang kakaknya.
Kakaknya memberi nasihat, supaya bisa menahan segala rasa yang ia simpan. Kakaknya bersedia menjadi perantara Zahra kepada si Pria itu. Namun dengan syarat, agar Zahra bisa meningkatkan ibadahnya. Memperbanyak membaca al-Qur'an, puasa sunnah dan sebagainya. Hal itu bertujuan untuk lebih meluruskan niatnya untuk menikah hanya karena Allah, untuk menjaga hatinya. Bukan berdasarkan hawa nafsu semata.
Beberapa waktu kemudian, ternyata terdengar kabar bahwa pria yang dicintai Zahra akan segera menikah dengan wanita pilihannya. Subhanallah, mendengar kabar itu Zahra tak lantas kecewa. Meskipun ada sebersit rasa sedih tapi ia bisa mengendalikan perasaannya hingga tak berubah menjadi patah hati yang berlebihan.
Usahanya tak putus sampai di situ, ia pun membuat proposal nikah yang ia berikan kepada guru ngajinya dan kepada kerabatnya yang memiliki pemahaman ilmu yang baik. Ia memang sangat berniat menikah untuk menjaga kehormatannya dan bisa melindungi dirinya dari segala macam fitnah.
Hebatnya, mengalami satu kegagalan tak membuatnya putus asa atau bermurung diri. Karena ia memang berniat menikah karena Allah, bukan karena siapa-siapa. Yang terpenting baginya adalah keshalihan.
Dalam bilangan minggu, ternyata Zahra mendapat kabar dari guru ngajinya bahwa ada seorang pria yang siap menikah. Mereka pun saling bertukar biodata proposal. Kedua pihak pun setuju untuk melakukan pertemuan. Dengan di dampingi oleh guru ngajinya masing-masing maka pertemuan di lakukan. Pertemuan pertama berjalan lancar dan untuk pertemuan selanjutnya masing-masing pihak akan mempertimbangkannya kembali.
Setelah beberapa lama di tunggu, ternyata belum ada kabar dari pria itu apakah proses ta'aruf dilanjutkan atau tidak. Maka Zahra pun menghubunginya perihal kelanjutan ta'aruf di antara mereka. Jawabannya yang di terima Zahra adalah bahwa pria itu belum mengkomunikasikan tentang rencana pernikahannya kepada orangtuanya. Orangtua pria itu adalah tipikal orang yang merasa aneh jika pernikahan tidak diawali dengan berpacaran. Zahra tekejut dengan jawaban pria itu. Kenapa sebelum melakukan ta'aruf tidak dulu dibicarakan dengan orangtuanya sehingga sewaktu-waktu ia sudah siap untuk menikah maka orangtuanya bisa menerima. Karena si pria itu tidak memberikan waktu yang pasti mengenai kelanjutan ta'aruf mereka, maka Zahra memutuskan untuk mengakhiri ta'aruf mereka. Hal itu di pilih Zahra untuk menghindari hal-hal yang bisa menjerumuskan mereka ke dalam jurang maksiat di karenakan tidak adanya kepastian waktu.
Dua kali Zahra mengalami kegagalan. Tapi ia tak putus asa. Untuk ikhtiarnya yang ketiganya pun Zahra masih gagal meneruskan proses ta'aruf ke jenjang pernikahan karena sesuatu sebab.
Masih pantang menyerah, Zahra melanjutkan usahanya yang ke empat kali. Kali ini Zahra di beri informasi oleh seorang ustadzah di kampung halamannya di kota X, bahwa ada seorang pria yang siap menikah dan sedang mencari calon istri yang sama kampung halamannya yaitu kota X juga tetapi berdomisili di Jakarta. Mendengar informasi itu Zahra langsung memberikan proposal nikahnya kepada ustadzah tersebut. Selang beberapa hari, terjadilah pertemuan antara kedua pihak di dampingi perantara.
Pada pertemuan pertama lebih di tekankan pada pengenalan pribadi yang merupakan penjabaran dari isi proposal, masing-masing pihak bertanya mengenai hal-hal yang kurang di pahami dan bagaimana pandangan tentang rumah tangga dan seluk beluknya. Pertemuan pertama bisa di bilang penentuan, maksudnya jika ada hal-hal yang tidak di pahami mengenai calon atau ada pertanyaan yang mengganjal, bisa langsung ditanyakan. Karena jawaban dari pertanyaan yang diajukan pada saat itu juga dapat memperlihatkan ekspresi kejujuran tanpa dibuat-buat juga dapat dinilai mengenai sifat asli melalui jawaban yang dilontarkan. Jika ada kecocokan masa dibilang dijadwalkan untuk pertemuan berikutnya yaitu pertemuan antara dua keluarga.
Merasa ada kecocokan antara Zahra dan calonnya. Maka pertemuan kedua langsung berbicara mengenai pernikahan. Bagaimana teknis dan hal lainnya. Awalnya pernikahan akan dilaksanakan dua bulan setelahnya, namun khawatir kurang bisa menjaga hati maka dengan berbagai pertimbangan pernikahan dimajukan menjadi sebulan dari di laksanakannya pertemuan pertama.
Akhirnya pencarian Zahra akan jodohnya berakhir. Zahra dan calonnya menikah di kediaman Zahra di kota X, dengan acara yang sangat sederhana. Hanya selang sebulan dari masa ta'aruf mereka.
*****
Itulah cerita yang saya ambil berdasarkan kisah nyata dari kawan baik saya. Betapa gigihnya dia menjemput jodohnya. Karena niat dia baik, maka siapapun prianya yang penting shalih maka ia akan terima. Niatnya tulus karena Allah.
Allah telah memberikan imbalan atas kegigihan Zahra dan kesabarannya dalam mencari pendamping hidup. Allah memberinya seorang suami yang shalih yang mampu memimpin dirinya menuju keridhoan Allah. Kini usia pernikahan mereka memasuki bulan ketiga. Dan singkatnya perkenalan mereka, tak membuat mereka mempermasalahkan perbedaan yang ada. Justru pasca pernikahan, mereka gunakan untuk penjajakan guna pengenalan pribadi masing-masing secara mendalam.
Maha Suci Allah yang telah mempertemukan hambaNya dalam ikatan yang suci. Zahra dan suaminya tak membutuhkan proses yang lama untuk perkenalan pra nikah. Karena jika niat sudah lurus karena Allah saja, maka tak ada celah untuk mencari-cari alasan untuk berkata tidak apalagi melakukan hubungan yang sudah jelas haram (baca : pacaran). Cukup Allah saja yang menjadi alasan.
Mungkin cerita saya di atas hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang jarang terekspose. Ketika niat hanya kepada Allah sudah bulat, maka tak ada yang bisa menghalangi. Dan Allah pun langsung mengganjar kesabaran dengan sesuatu yang indah. Indah pada waktunya.

Jangan Halangi Aku Untuk Beramal !

Oleh Saad Saefullah
Hari itu Nasibah tengah berada di dapur. Suaminya, Said tengah beristirahat di kamar tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nasibah menebak, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitar Gunung Uhud.
Dengan bergegas, Nasibah meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya dan masuk ke kamar. Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan lembut dibangunkannya. “Suamiku tersayang,” Nasibah berkata, “Aku mendengar suara aneh menuju Uhud. Barang kali orang-orang kafir telah menyerang.”
Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Ia menyesal mengapa bukan ia yang mendengar suara itu. Malah Istrinya. Segera saja ia bangkit dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu ia menyiapkan kuda, Nasibah menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.
“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang....”
Said memandang wajah Istrinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu, tak pernah ada keraguan baginya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah saw melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu makin mengobarkan keberanian Said saja.
Di rumah, Nasibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan Ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang pengendara kuda yang nampaknya sangat gugup.
“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si Penunggang Kuda, “Suami Ibu, Said baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid....”
Nasibah tertunduk sebentar, “Innalillah....” gumamnya, “Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”
Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat itu, Nasibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan, “Amar, kaulihat Ibu menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar Ayahmu telah syahid. Aku sedih karena tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat Ibumu bahagia?”
Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.
“Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terbasmi.”
Mata amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku was-was seandainya Ibu tidak memberi kesempatan kepadaku untuk membela agama Allah.”
Putra Nasibah yang berbadan kurus itu pun segera menderapkan kudanya mengikut jejak sang Ayah. Tidak tampak ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di depan Rasulullah saw, ia memperkenalkan diri. “Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan Ayah yang telah gugur.”
Rasul saw dengan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu....”
Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung sampai sore. Pagi-pagi seorang utusan pasukan Islam berangkat dari perkemahan mereka menuju ke rumah Nasibah. Setibanya di sana, perempuan yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangan kiranya?” serunya gemetar ketika sang Utusan belum lagi membuka suaranya, “Apakah anakku gugur?”
Utusan itu menunduk sedih, “Betul....”
“Innalillah....” Nasibah bergumam kecil. Ia menangis.
“Kau berduka, ya Ummu Amar?”
Nasibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatan? Saad masih kanak-kanak.”
Mendegar itu, Saad yang tengah berada tepat di samping Ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putra seorang Ayah yang gagah berani.”
Nasibah terperanjat. Ia memandangi putranya. “Kau tidak takut, Nak?”
Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nasibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan itu.
Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu akbar!”
Kembali Rasulullah saw memberangkatkan utusan ke rumah Nasibah. Mendengar berita kematian itu, Nasibah meremang bulu kuduknya. “Hai utusan,” ujarnya, “Kau saksikan sendiri aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”
Sang utusan mengerutkan keningnya. “Tapi engkau perempuan, ya Ibu....”
Nasibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku karena aku perempuan? Apakah perempuan tidak ingin juga masuk Surga melalui jihad?”
Nasibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas saja menghadap Rasulullah saw dengan kuda yang ada. Tiba di sana, Rasulullah saw mendengarkan semua perkataan Nasibah. Setelah itu, Rasulullah saw pun berkata dengan senyum. “Nasibah yang dimuliakan Allah. Belum waktunya perempuan mengangkat senjata. Untuk sementra engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”
Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nasibah pun segera menenteng tas obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur. Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba terciprat darah di rambutnya. Ia menegok. Kepala seorang tentara Islam menggelinding terbabat senjata orang kafir.
Nasibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi waktu dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh, Nasibah tidak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang rubuh itu. Dinaiki kudanya. Lantas bagai 'singa betina', ia mengamuk. Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang. Hingga pada suatu waktu seorang kafir mengendap dari belakang, dan membabat putus lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.
Peperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga Nasibah teronggok sendirian. Tiba-tiba Ibnu Mas’ud mengendari kudanya, mengawasi kalau-kalau ada korban yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat seonggok tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Istri Said-kah engkau?”
Nasibah samar-samar memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “Bagaimana dengan Rasulullah? Selamatkah beliau?”
“Beliau tidak kurang suatu apapun....”
“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan? Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku....”
“Engkau masih luka parah, Nasibah....”
“Engkau mau menghalangi aku membela Rasulullah?”
Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nasibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikannya. Namun, karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus. Rubuhlah perempuan itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.
Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak. Rasul saw kemudian berkata kepada para sahabatnya, “Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu adalah bayangan para Malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nasibah, wanita yang perkasa.”


(Peri Hidup Nabi dan Para Sahabat; Saad Saefullah)