Cara Belajar TOEFL

Sabtu, 24 September 2011

Gubuk Kesabaran

 

Gubuk itu terbuat dari bambu yang sudah usang dimakan waktu. Genting atapnya sudah hitam rapuh terkena kebulan asap dapur, seakan tak kuat lagi menaungi pondasi bangunan yang luasnya hanya sekitar 4 x 5 meter persegi yang berdiri bebas di Kampung Pondok RT 003/009 Desa Babakan Kecamatan Ciseeng, Bogor.
Beberapa tiang penyangganya pun kian lapuk dan tak kuat lagi menahan terjangan angin dan hujan. Lantainya berupa tanah coklat yang menyatu dengan halaman depan. Lampu teplok dari kaleng susu bekas yang diisi minyak tanah dan bahan kain seadanya menjadi benda satu-satunya yang menerangi keluarga ini kala malam tiba. Gubuk itu menjadi istana bagi Timan (40) dan istri yang setia menemaninya.
Timan adalah ayah empat orang anak dan satu orang cucu. Dia sungguh pantang menyerah. Di usianya yang sudah menginjak kepala empat, Timan masih bekerja keras sebagai buruh bangunan. Bertahun-tahun sudah Timan menjadi kuli bangunan dengan upah yang hanya cukup untuk makan dengan menu yang terkadang harus dicarinya dari tumbuh-tumbuhan di kebun milik saudaranya.
Cerita sedih Timan dan istrinya semakin bertambah, saat menerima anak perempuan pertamanya karena diceraikan sang suami. Pasangan ini sudah memberi satu orang cucu buat Timan dan istri. Kini, beban mereka bertambah karena harus ikut member makan sang cucu. Belum lagi kebutuhan biaya pendidikan anak keduanya yang kian bertambah.
Demi menutupi kebutuhan tersebut, sang istri akhirnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan upah Rp 250 ribu rupiah per bulan. Namun, konsekuensinya, kedua anaknya yang masih kecil jadi tak terurus. Kondisi semacam inilah yang mendorong Timan untuk terus bangkit dari keterpurukan dengan cara bekerja apa pun yang dapat menghasilkan uang.
Timan pantang menyerah, bahkan ketika tidak ada lagi orderan dari kontraktor bangunan, Timan tetap menggeluti pekerjaan serabutan demi menyambung nyawa. Menjadi tukang perawat hewan paroan pun dijabaninya, “Yang penting saya dan keluarga bisa makan, Mas,” lirihnya.
Semangat berusaha inilah yang menjadi embrio bagi Timan untuk mencari kesempatan peluang usaha. Hanya saja faktor ekonomi lagi-lagi menjadi kendala utama baginya untuk mewujudkan segala angannya yang sederhana; memiliki keluarga yang tetap ceria di saat sulit.
Semangat itu pula yang membawa Timan akhirnya berjumpa dengan Lembaga Pelayanan Masyarakat Dompet Dhuafa (LPM DD) di daerah Ciputat, Tangerang. Dari LPM DD, Timan mendapatkan modal usaha yang dapat digunakannya sebagai modal beternak ikan di empang milik saudaranya. Kini Timan dapat tersenyum ceria di tengah kesulitannya. mnh/ww/Ibnu

Dimana Imanmu Dan Kemana Akhlakmu?

Ikhwah, kita adalah dai sebelum sesuatu, dan kita juga adalah para penggiat kebaikan. Bahwa Surga adalah kesenangan yang sesungguhnya, kita pun paham. Kita juga mengetahui bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Maka sudah sepantasnya bagi kita untuk memiliki akhlak yang baik.
Ya, dakwah tidak cuma bisa dikerjakan dengan lisan, jauh lebih penting dan utama dakwah dengan menggunakan perbuatan, karena itu Ikhwah, jadilah orang yang dengan diamnya akan menentramkan, yang ketika bicara menyejukkan orang yang mendengarnya, dan yang nasehat-nasehatnya menyelamatkan orang lain, baik di dunia maupun di akhirat. Itu semua bisa kita lakukan ketika kita memiliki akhlak yang baik.
Bahwa kemenangan Islam akan tiba itu adalah janji Allah akan tetapi Allah tidak akan meletakkan sesuatu yang bukan pada tempatnya dan tidak akan pernah memberikan kemenangan pada orang yang malas dan tidak bersungguh-sungguh.
Ibnu al-Qayyim mengatakan, kemenangan dan dukungan Allah hanyalah diberikan kepada orang-orang yang memiliki keimanan dan kepribadian (Syahsiyyah Islamiyyah) paripurna. Sebagai gambaran adalah bagaimana ketika perang badar terjadi, Rasulullah saw dan kaum muslimin saat itu dari segi senjata dan jumlah kalah jauh dibanding kaum kafir, tetapi Allah swt memberikan bantuan dengan mendatangkan malaikat secara bergelombang. Kalau saat itu kaum muslimin yang berperang tidak beriman dan tidak berakhlak baik, akankah malaikat itu akan diperbantukan olehNya?
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankanNya bagimu, ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut’.” (QS. Al-Anfaal [8] : 9). Allah swt juga berfirman dalam QS. Al-Shaff [61] : 14, yang artinya “Maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang”.
Ikhwah sebagai Dai, pendakwah agama, serta penyeru kebaikan, selain memiliki akhlak yang baik juga haruslah memiliki modal keimanan dan ketakwaan yang kuat dalam memikul beban dan tantangan dakwah yang semakin berat. Beban berat itu tidak akan bisa dipikul oleh orang sembarangan karena Allah swt akan memilih orang-orang yang memiliki kondisi keimanan yang baik untuk melanjutkan dakwah RasulNya. Cukuplah dua ayat di atas menjadi pengetahuan bagi kita bahwa Allah akan menolong dan memenangkan orang-orang yang beriman.
Ikhwah, mari merenung, sejauh ini bagaimana dengan kondisi keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah, bagaimana akhlak kita dalam kehidupan sehari-hari. Astaghfirullah. Bagaimana Allah akan menolong dan memenangkan dakwah kita ketika kita tidak beriman dan berakhlak baik, bagaimana dakwah kita akan diterima oleh orang jika kita adalah penggiat kemaksiatan. Astaghfirullah.
Ikhwah, maka benarlah ketika Umar bin khattab menulis surat kepada Sa’ad bin Abi Waqqash beserta para tentaranya, bahwa kita dimenangkan karena keutamaan kita dan bukan karena kekuatan kita. Karena tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan Allah swt. Pantas pula ketika, Fudloil bin Iyadl menasehati para mujahidinnya untuk bertaubat karena taubat itu mampu menolak bahaya yang tidak bisa ditolak oleh pedang-pedang kamu.
Semoga Allah swt masih menganugerahkan rasa takut kepada kita, yaitu takut jika taat dan amal kita tidak diterimaNya, takut ketika dosa kita tidak diampuni, dan takut ketika iman dihilangkan dari diri kita. Wallahu a’lam bis showabOleh Wahyu
www.eramuslim.com